Rektor UIN KHAS Jember: Wisuda Bukan Garis Akhir, Melainkan Pintu Membaca Dunia yang Kian Rapuh
Humas - Wisuda Sarjana ke-75, Program Magister ke-56, dan Program Doktor ke-32 Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Kamis, 29 Januari 2026, bukan sekadar perayaan kelulusan. Di hadapan para wisudawan, orang tua, dan sivitas akademika, Rektor UIN KHAS Jember Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM. mengajak seluruh lulusan membaca ulang makna wisuda dalam konteks dunia yang terus berubah dan semakin tidak pasti.
Dalam Sidang Senat Terbuka yang berlangsung khidmat, Prof. Hepni menegaskan bahwa gelar akademik tidak boleh dipahami sebagai titik akhir perjuangan. Wisuda, menurutnya, justru menjadi pintu masuk menuju fase hidup yang menuntut kedewasaan berpikir, ketangguhan mental, dan kepekaan sosial.
“Kalian hari ini memasuki dunia yang rapuh, penuh ketidakpastian, dan sering kali kabur antara kebenaran dan keburukan,” ujarnya.
Rektor UIN KHAS Jember menggambarkan dunia kontemporer sebagai ruang yang sarat informasi, tetapi miskin ketenangan. Data berlimpah, namun makna sering kali tercecer. Dalam situasi itu, alumni dituntut tidak hanya mampu membaca teks dan angka, melainkan juga membaca fenomena yang tak tertulis, mulai dari kegelisahan masyarakat, perubahan sosial, dan arah zaman.
Ia menekankan bahwa kesuksesan tidak pernah hadir secara instan. Proses panjang, keterlibatan, dan kesabaran justru menjadi bagian penting dari pembentukan karakter seorang sarjana. Prof. Hepni menyampaikan bahwa setiap orang memiliki lintasan hidup yang berbeda, sehingga perbandingan sosial hanya akan melemahkan daya juang.
“Jangan ukur perjalananmu dengan perjalanan orang lain. Semesta tahu kapan waktunya setiap orang sampai,” tuturnya.
Dalam pesannya, Prof. Hepni juga menggarisbawahi pentingnya adab dalam berilmu. Ia mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan tanpa etika akan kehilangan arah dan makna. Alumni UIN KHAS Jember, katanya, harus hadir sebagai pribadi yang aktif secara intelektual, kokoh secara moral, dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
“Yang ditanya masyarakat bukan seberapa tinggi gelar kalian, tetapi seberapa besar kehadiran dan manfaat karya kalian bagi sesama,” katanya.
Prosesi wisuda yang diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, laporan akademik, pengukuhan lulusan, hingga penyerahan wisudawan kepada Ketua Alumni, menjadi latar institusional bagi pesan reflektif tersebut. Di tengah seremoni, pidato rektor tampil sebagai poros Utama yang menjembatani capaian akademik dengan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan.
Wisuda UIN KHAS Jember hari itu ditutup dengan foto bersama dan doa. Namun pesan Rektor UIN KHAS Jember tetap menggema, bahwa menjadi sarjana bukan hanya tentang lulus, melainkan tentang kesiapan untuk terus belajar, membaca zaman, dan menebar kebaikan di dunia yang sedang mencari arah.
Penulis: Atiyatul Mawaddah
Editor: Munirotun Naimah



