info@uinkhas.ac.id (0331) 487550

Maknai Keistimewaan Ramadan, Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember Ajak Civitas Lakukan Self-Recharging dan Self-Resetting

Home >Berita >Maknai Keistimewaan Ramadan, Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember Ajak Civitas Lakukan Self-Recharging dan Self-Resetting
Diposting : Senin, 02 Mar 2026, 09:17:02 | Dilihat : 24 kali
Maknai Keistimewaan Ramadan, Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember Ajak Civitas Lakukan Self-Recharging dan Self-Resetting


Humas - Suasana Masjid Sunan Ampel UIN KHAS Jember tampak khidmat pada Selasa, 24 Februari 2026. Ba’da salat Dzuhur, Dekan Fakultas Dakwah, Prof. Dr. Fawaizul Umam, M.Ag., menyampaikan kultum Ramadan yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube resmi kampus. Seluruh civitas akademika menyimak dengan seksama. 

Dalam kultumnya yang bertema "Memaknai Keistimewaan Ramadan", Prof. Fawaiz membuka dengan ungkapan syukur dan shalawat, seraya menyapa pimpinan universitas dan jamaah yang hadir. Ia mengajak hadirin untuk bersyukur karena kembali dipertemukan dengan bulan Ramadan dalam keadaan sehat dan memiliki kesempatan untuk beribadah secara berjamaah.

“Patut kita bersyukur karena untuk kesekian kalinya Allah memperkenankan kita menikmati bulan Ramadan. Mudah-mudahan cara kita memaknai Ramadan tahun ini lebih baik dan lebih berkualitas daripada tahun sebelumnya,” ujarnya.

Menurutnya, keistimewaan Ramadan setidaknya ditopang oleh dua peristiwa spiritual besar. Pertama, turunnya Al-Qur’an sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah. Kedua, hadirnya malam penuh kemuliaan, Lailatul Qadar. Dua momentum tersebut, sudah cukup menjadi penanda bahwa Ramadan adalah bulan yang sangat istimewa.

Ia juga mengutip riwayat hadis yang menyebutkan bahwa seandainya umat mengetahui kemuliaan Ramadan, niscaya mereka berharap sepanjang tahun menjadi Ramadan. Meski sanad hadis tersebut dinilai lemah, Prof. Fawaiz menegaskan bahwa secara substantif ia mencerminkan spirit keagungan bulan suci yang juga ditegaskan oleh hadis-hadis sahih, termasuk riwayat dalam Shahih Bukhari dan Muslim tentang dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, serta dibelenggunya setan saat Ramadan tiba.

“Artinya, seluruh potensi kita untuk berbuat buruk diperkecil oleh Tuhan. Maka jika di bulan Ramadan kita masih bersikeras melakukan kemaksiatan, itu patut kita renungkan,” tuturnya dengan gaya retoris yang sesekali diselingi humor khas akademisi pesantren.

Dalam penjelasannya, Prof. Fawaiz juga menyinggung pandangan jumhur ulama, termasuk Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari, bahwa pengampunan dosa melalui puasa Ramadan terutama ditujukan bagi dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar, memerlukan taubat yang sungguh-sungguh dan kesadaran moral yang mendalam.

Namun, inti pesannya tidak berhenti pada deskripsi keutamaan normatif. Ia mengajak jamaah untuk memaknai Ramadan secara praksis. “Ramadan itu istimewa. Maka kita harus mengistimewakannya,” katanya.

Menurut Dekan Fakultas Dakwah tersebut, Ramadan harus dijadikan momentum self-recharging dan self-resetting. Selama sebelas bulan, manusia disibukkan oleh urusan duniawi. Ramadan hadir sebagai ruang jeda spiritual untuk mengisi ulang “baterai rohani” yang melemah.

Ia bahkan menganalogikan puasa sebagai proses detoksifikasi, tidak hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi jiwa. “Kita cas ulang rohani kita. Bahkan kalau perlu kita reset ulang diri kita, kembali menjadi manusia yang seutuhnya,” ujarnya.

Untuk mewujudkan itu, Prof. Fawaiz merumuskan dua langkah sederhana. Pertama, memperbaiki hubungan dengan Allah. Hal ini dapat dimulai dengan memperbanyak istighfar dan menghadirkan kembali kesadaran bahwa setiap pilihan hidup berada dalam pengawasan dan penentuan-Nya.

Kedua, memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Menurutnya, aspek ini jauh lebih berat. Sebab, persoalan antarmanusia tidak selesai hanya dengan istighfar, tetapi membutuhkan keberanian untuk meminta maaf dan memberi maaf.

“Pastikan Ramadan ini kita benar-benar menyelesaikan problem hubungan antarmanusia. Karena Allah tidak akan mengembalikan kita pada fitrah kemanusiaan jika masih ada ganjalan sosial yang belum kita tuntaskan,” tegasnya.

Di penghujung kultum, ia menegaskan bahwa tujuan akhir dari seluruh proses tersebut adalah kembali menjadi manusia bertakwa sebagaimana spirit Al-Qur’an. Ramadan, katanya, adalah jalan pembentukan ulang diri agar ketika tiba saatnya kembali kepada Allah, manusia berada dalam keadaan ridha dan diridhai.

Kultum ditutup dengan doa dan harapan agar Ramadan benar-benar menjadi momentum transformasi spiritual bagi seluruh civitas akademika UIN KHAS Jember. Dalam gaya yang ringan namun reflektif, Dekan Fakultas Dakwah itu mengingatkan bahwa keistimewaan Ramadan tidak cukup diketahui, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Penulis: Atiyatul Mawaddah
Editor: Munirotun Naimah

;