Wisuda UIN KHAS Jember Berbalut Semangat Kartini, Perempuan Dominasi Prosesi
Humas - UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember menggelar wisuda sarjana ke-76, magister ke-57, dan doktor ke-33 Tahun Akademik 2025/2026 dalam suasana yang tidak biasa, Selasa (21/4). Tanggal pelaksanaan yang bertepatan dengan Hari Kartini menghadirkan nuansa reflektif sekaligus simbolik yakni perempuan tidak hanya dikenang, tetapi tampil dominan dalam jalannya prosesi akademik.
Sejak pra-acara hingga penutupan, panggung wisuda diwarnai kehadiran perempuan. Mulai dari pembawa acara, petugas pedel, pembaca ayat suci Al-Qur’an, pembaca doa, hingga pembaca ikrar mahasiswa, sebagian besar diemban oleh perempuan. Komposisi ini seperti menegaskan pesan emansipasi yang tidak lagi bersifat retoris, melainkan praksis dalam ruang akademik.
Prosesi berlangsung tertib sejak pagi dimulai dari sidang senat terbuka, laporan akademik, pembacaan keputusan wisudawan, hingga pengukuhan lulusan oleh Wakil Rektor I. Momen haru mengemuka saat pemindahan tali toga dan penyerahan ijazah, disusul persembahan lagu-lagu bertema ibu yang mempertegas dimensi emosional wisuda.
Puncak refleksi hadir dalam arahan rektor yang diwakili Wakil Rektor I, Prof. M. Khusna Amal. Ia menegaskan bahwa momentum wisuda yang bertepatan dengan Hari Kartini bukan kebetulan semata, melainkan pengingat akan pentingnya keberanian intelektual.
“Kartini tidak harus ditafsirkan secara literal sebagai sosok perempuan, tetapi sebagai spirit—ide, pemikiran, dan perjuangan,” ujarnya. Ia mengajak para lulusan menjadi “Kartini-Kartini baru” dalam arti substantif dengan menghadirkan perubahan melalui gagasan dan tindakan.
Dalam paparannya, ia mengurai bagaimana Raden Ajeng Kartini memilih jalan intelektual di tengah keterbatasan akses pendidikan pada zamannya. Kartini membangun kesadaran melalui membaca dan menulis, hingga melahirkan gagasan besar tentang keadilan sosial. Bagi Prof. M. Khusna Amal, konteks ini relevan dengan posisi wisudawan hari ini yang justru memiliki akses pendidikan lebih luas.
“Jika Kartini dengan keterbatasan mampu melahirkan perubahan, maka saudara yang telah menempuh pendidikan tinggi semestinya memiliki daya ubah yang jauh lebih besar,” katanya.
Ia juga menautkan pesan tersebut dengan pemikiran Nelson Mandela tentang pendidikan sebagai senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Ilmu pengetahuan, menurutnya, bukan hanya instrumen mobilitas sosial, tetapi juga alat transformasi peradaban.
Di sisi lain, ia menyampaikan refleksi institusional dengan mengakui adanya keterbatasan dalam proses pendidikan. Namun, ia menegaskan bahwa dedikasi dan keikhlasan dosen, serta doa yang terus mengalir, merupakan fondasi moral yang menyertai perjalanan akademik mahasiswa.
Wisudawan pun didorong untuk tidak berhenti pada gelar. Tradisi intelektual dengan membaca, belajar, dan mengkaji realitas, harus terus dirawat, terutama ketika memasuki dunia kerja dan pengabdian masyarakat.
Kepada orang tua, kampus menyerahkan kembali para lulusan dengan pesan sederhana namun kuat, yakni pendampingan tidak berhenti di ruang wisuda. Sementara itu, kampus tetap menjadi “rumah kedua” yang terbuka bagi alumni untuk kembali, belajar, dan bertumbuh.
Menutup arahannya, Prof. M. Khusna Amal mengutip semangat klasik yang kembali relevan di hari itu: “Habis gelap terbitlah terang.” Ia menambahkan, kelulusan bukan garis akhir, melainkan titik berangkat menuju masa depan yang lebih cerah, yakni sebuah terang yang (dalam konteks Kartini) lahir dari keberanian berpikir dan ketekunan belajar.
Penulis: Atiyatul Mawaddah
Editor: Munirotun Naimah