Berita

UIN KHAS Jember Gelar Training Kurikulum Cinta untuk Perkuat Kompetensi Mengajar Dosen

Bagikan:
UIN KHAS Jember Gelar Training Kurikulum Cinta untuk Perkuat Kompetensi Mengajar Dosen

Humas - UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember membuka Training Peningkatan Kompetensi Pengajaran Dosen Berbasis Kurikulum Cinta di Ruang Rapat Rektorat lantai 1, Kamis pagi, 21 Mei 2026. Kegiatan dibuka pukul 07.30 WIB dan dilanjutkan dengan pelatihan intensif selama tiga hari pada 21–23 Mei 2026 di Hotel FortunaGrande Jember. Training ini menghadirkan dua narasumber dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yakni Prof. Dr. Barmawi Munte, M.A. dan Dr. Roni Ismail, M.Si..

Dalam sambutannya, Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M. menegaskan bahwa pendidikan berbasis cinta bukan sekadar pendekatan metodologis, melainkan upaya mendidik manusia dengan hati. Ia menyebut proses pendidikan Rasulullah berhasil mengubah masyarakat yang tidak beradab menjadi masyarakat beradab bukan melalui kekerasan, melainkan kelembutan dan kasih sayang. Menurut Prof. Hepni, konsep “cinta” dalam pembelajaran harus diwujudkan melalui kepedulian, keteladanan, totalitas, kemuliaan, dan transformasi yang berdampak nyata pada perkembangan peserta didik. “Pendidikan berbasis cinta adalah memanusiakan manusia,” ujarnya di hadapan peserta pelatihan dan pimpinan universitas.

Prof. Hepni juga menguraikan konsep “CINTA” sebagai pendekatan pendidikan. Huruf “C” dimaknai sebagai care atau kepedulian penuh kasih sayang, “I” sebagai integritas dan keteladanan, “N” sebagai nilai kemuliaan dalam mendidik, “T” sebagai transformasi yang menghasilkan perubahan bermakna, sedangkan “A” dimaknai sebagai aksi capaian nyata dari proses pendidikan. Ia menilai kurikulum cinta relevan dengan tradisi pendidikan ulama salaf yang tidak hanya mendidik di ruang kelas, tetapi juga melibatkan peserta didik dalam pembinaan moral dan spiritual secara menyeluruh.

Sementara itu, Wakil Rektor I Prof. Dr. M. Khusna Amal, M.Si., mengatakan program pelatihan tersebut sebenarnya telah dirancang sejak 2020, namun baru dapat direalisasikan tahun ini akibat berbagai kendala. Ia menyebut kegiatan tersebut menjadi bagian dari penguatan mutu pembelajaran dosen yang selama ini dinilai belum mendapat perhatian sebesar riset dan publikasi ilmiah. “Peningkatan kompetensi pembelajaran selama ini nyaris kurang tersentuh,” kata Prof. Amal.

Menurutnya, pelatihan difokuskan pada penguatan strategi pembelajaran, metodologi mengajar, hingga kemampuan mendesain proses pembelajaran yang inovatif, adaptif, dan transformatif. Ia menilai kualitas pengajaran dosen berkorelasi langsung dengan kemampuan mahasiswa saat menjalani praktik mengajar di sekolah maupun madrasah. Karena itu, universitas mulai melakukan intervensi melalui peningkatan keterampilan teknis pengajaran dosen.

Pelatihan ini diikuti 30 peserta yang mayoritas merupakan dosen muda dan calon dosen. Prof. Amal menyebut kelompok muda dipilih karena dianggap memiliki potensi besar untuk berkembang dan menjadi aset jangka panjang universitas dalam meningkatkan mutu pendidikan. Ia berharap peserta tidak hanya menerapkan hasil pelatihan di ruang kelas masing-masing, tetapi juga menularkan pengalaman pembelajaran kepada dosen lain secara berkelanjutan.

Pada sesi pengarahan, Prof. Dr. Barmawi Munte, M.A. menekankan bahwa gelar akademik, senioritas, maupun sertifikasi dosen bukan jaminan seseorang mampu mengajar dengan baik. Ia menyebut tidak ada “sekolah guru” yang benar-benar menjamin kualitas pengajaran seseorang, sehingga pelatihan pedagogik menjadi pintu penting untuk memperbaiki kompetensi mengajar. “Gelar bukan jaminan pengajaran baik. Senioritas juga bukan jaminan,” ujarnya.

Prof. Barmawi mengingatkan bahwa dosen memiliki tanggung jawab besar membentuk kemampuan berpikir dan berbicara generasi muda. Ia juga menekankan pentingnya pembelajaran sepanjang hayat bagi pendidik. Menurutnya, dosen harus terus belajar, memperbaiki diri, dan membuka diri terhadap pendekatan-pendekatan baru dalam pembelajaran. Ia menyebut pelatihan UIN KHAS Jember Gelar Training Kurikulum Cinta untuk Perkuat Kompetensi Mengajar Dosen

Prof. Barmawi mengingatkan bahwa dosen memiliki tanggung jawab besar membentuk kemampuan berpikir dan berbicara generasi muda. Ia juga menekankan pentingnya pembelajaran sepanjang hayat bagi pendidik. Menurutnya, dosen harus terus belajar, memperbaiki diri, dan membuka diri terhadap pendekatan-pendekatan baru dalam pembelajaran. Ia menyebut pelatihan tersebut sebagai “pintu masuk yang benar” untuk memperkuat kualitas pendidikan tinggi melalui pembelajaran yang lebih manusiawi dan reflektif.

Penulis: Atiyatul Mawaddah 

Editor: Munirotun Naimah 

Fotografer: Denny Prabu Syahputra 

Aksesibilitas
Ukuran Teks
Skala Abu-abu
Kontras Tinggi