Berita

Prof. Sahiron Dorong UIN KHAS Jember Jadikan Pemeringkatan Global sebagai Pemacu Peningkatan Mutu

Bagikan:
Prof. Sahiron Dorong UIN KHAS Jember Jadikan Pemeringkatan Global sebagai Pemacu Peningkatan Mutu

Humas - Capaian UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang menempati posisi kedua perguruan tinggi terbaik di Indonesia versi Times Higher Education World University Rankings (THE WUR) 2027 menjadi pemantik optimisme bagi UIN KHAS Jember untuk terus memperkuat kualitas akademik, riset, tata kelola, dan reputasi kelembagaan.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI sekaligus Plt. Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., mengangkat perkembangan pemeringkatan perguruan tinggi tersebut dalam Rapat Evaluasi Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN KHAS Jember di Hotel Rich Palace Surabaya, Kamis (15/10/2026).

Menurut Prof. Sahiron, perkembangan yang ditunjukkan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, termasuk PTKIN, memperlihatkan bahwa peningkatan kualitas perguruan tinggi bukan sesuatu yang mustahil. UIN Sunan Kalijaga dalam THE WUR 2027 tercatat berada pada klaster 801–1000 dunia dan menjadi perguruan tinggi terbaik kedua di Indonesia setelah Universitas Indonesia.

Capaian tersebut, menurut Prof. Sahiron, perlu dibaca bukan sekadar sebagai angka dalam sebuah pemeringkatan, tetapi sebagai gambaran dari kerja panjang perguruan tinggi dalam membangun kualitas pendidikan, penelitian, publikasi, reputasi akademik, serta jejaring dan kolaborasi internasional.

“Kita harus optimis. Kalau perguruan tinggi lain bisa, kita juga harus punya keyakinan untuk bisa. Tetapi optimisme itu harus diikuti dengan kerja yang terukur dan konsisten,” ujar Prof. Sahiron dalam forum tersebut.

Ia mendorong sivitas akademika UIN KHAS Jember untuk melihat pemeringkatan sebagai salah satu instrumen evaluasi sekaligus pemacu perbaikan. Setiap unsur kelembagaan, kata dia, perlu mengetahui kontribusinya terhadap peningkatan mutu universitas.

Dalam konteks itu, penguatan akademik tidak cukup hanya dilakukan melalui pembaruan kurikulum. Peningkatan kualitas dosen, produktivitas dan dampak riset, publikasi ilmiah, kolaborasi akademik, pengembangan sumber daya manusia, hingga penguatan tata kelola kelembagaan perlu berjalan dalam satu arah.

Prof. Sahiron juga mengingatkan bahwa persaingan perguruan tinggi saat ini berlangsung semakin terbuka. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan, tetapi juga membangun reputasi akademik dan memberikan dampak yang dapat diukur.

Karena itu, ia mengajak jajaran pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan UIN KHAS Jember untuk membangun budaya kerja yang berorientasi pada mutu. Target peningkatan reputasi universitas, menurutnya, harus diterjemahkan menjadi target-target yang lebih konkret pada setiap unit kerja.

“Kita tidak boleh hanya melihat kampus lain sebagai pembanding. Kita harus menjadikannya inspirasi untuk memperbaiki diri. Yang penting adalah bagaimana kita membangun sistem dan budaya mutu secara bersama-sama,” katanya.

Rapat evaluasi yang berlangsung 15–17 Oktober 2026 di Hotel Rich Palace Surabaya tersebut menjadi ruang untuk melihat kembali capaian sekaligus menyusun langkah pengembangan bidang akademik dan kelembagaan UIN KHAS Jember.

Selain Prof. Sahiron, agenda tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dan pemangku kepentingan, antara lain Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D., Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP); Dr. H. Muhammad Nur Hayed, S.Th.I., M.M., CSM., Komisioner Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP); serta Wardi Taufik, S.Ag., M.Si., C.A.H., Direktur LSP Pariwisata Syariah Indonesia.

Kehadiran para narasumber tersebut memperluas perspektif evaluasi UIN KHAS Jember, terutama dalam melihat keterkaitan antara penguatan akademik, pengembangan kelembagaan, sertifikasi kompetensi, dan kebutuhan dunia kerja.

Bagi UIN KHAS Jember, forum evaluasi tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat arah pengembangan universitas di tengah kompetisi pendidikan tinggi yang semakin dinamis. Capaian perguruan tinggi lain menjadi pengingat bahwa reputasi dibangun melalui kerja kolektif, konsistensi, dan keberanian menetapkan target yang lebih tinggi.

Optimisme, dalam pandangan Prof. Sahiron, bukan sekadar keyakinan untuk menjadi lebih baik, tetapi keberanian untuk menetapkan standar yang lebih tinggi dan kemudian bekerja bersama untuk mencapainya.


Penulis: Atiyatul Mawaddah

Editor: Munirotun Naimah

Fotografer: Dahlan Nur Busri

Aksesibilitas
Ukuran Teks
Skala Abu-abu
Kontras Tinggi