Berita

Keteladanan Jadi Kunci Bangun Kesadaran Kebersihan di Pesantren Nurul Qarnain

Bagikan:
Keteladanan Jadi Kunci Bangun Kesadaran Kebersihan di Pesantren Nurul Qarnain

Humas - Membangun kesadaran kebersihan di lingkungan pesantren tidak selalu efektif dilakukan melalui nasihat yang disampaikan berulang-ulang. Di Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Baletbaru, Sukowono, Jember, kebiasaan menjaga kebersihan justru tumbuh dari keteladanan yang dilihat dan dilakukan bersama setiap hari.

Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qarnain, KH. Yazid Karimullah, mengatakan bahwa contoh nyata dari orang-orang di lingkungan pesantren menjadi cara yang lebih efektif untuk membangun kesadaran santri. Ketika kebersihan dipraktikkan secara langsung, santri perlahan terdorong untuk mengikuti tanpa harus terus-menerus diingatkan.

“Kalau kita memberi contoh, biasanya anak-anak akan mengikuti. Mereka melihat langsung bagaimana kita menjaga kebersihan, kemudian tumbuh kesadaran dari dirinya sendiri. Kadang kalau hanya dinasihati terus, malah panjang dan belum tentu efektif,” ujar KH. Yazid saat diwawancarai tim dosen UIN KHAS Jember di Pondok Pesantren Nurul Qarnain, Selasa (6/10/2026).

Menurutnya, pembiasaan yang lahir dari keteladanan membuat santri tidak sekadar menjalankan aturan karena perintah. Kesadaran tersebut diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan yang dilakukan secara sukarela dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren.

Pandangan tersebut menjadi salah satu temuan penting dalam kegiatan Penggalian Data Pengabdian Kolaboratif Berbasis Ekologi, Perempuan, dan Pesantren yang dilakukan tim UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember di Pondok Pesantren Nurul Qarnain.

Penggalian data ini menjadi tahap awal untuk memahami kondisi nyata pesantren, termasuk potensi, kebutuhan, serta persoalan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian santri dan pengelola pesantren. Data lapangan tersebut selanjutnya menjadi pijakan dalam merancang program pengabdian yang tidak hanya sesuai dengan kebutuhan pesantren, tetapi juga dapat melibatkan warga pesantren secara aktif.

Wakil Rektor I UIN KHAS Jember, Prof. Dr. M. Khusna Amal, S.Ag., M.Si., bersama tim dosen turut terlibat dalam proses penggalian data tersebut. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat mutu penelitian dan pengabdian kolaboratif dengan menjadikan pesantren sebagai ruang belajar sekaligus mitra dalam merumuskan solusi.

Pendekatan tersebut penting agar program pengabdian tidak berhenti pada pemberian materi atau kegiatan sesaat. Sebaliknya, program diharapkan berangkat dari pengalaman dan kebutuhan masyarakat pesantren sehingga lebih kontekstual, partisipatif, dan memungkinkan untuk dilanjutkan secara mandiri.

Selain isu kebersihan dan lingkungan, tim juga menggali berbagai potensi serta kebutuhan yang berkaitan dengan perempuan dan kehidupan pesantren. Hasil penggalian tersebut akan menjadi bahan untuk menyusun arah, strategi, serta bentuk pengabdian kolaboratif yang lebih tepat sasaran.

Keterlibatan pengasuh pesantren menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Perspektif pengasuh memberikan gambaran mengenai kebiasaan, nilai, serta pendekatan pendidikan yang telah berjalan di lingkungan pesantren.

Pengalaman Nurul Qarnain menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu harus dimulai dari program yang besar. Kebiasaan sederhana yang dicontohkan secara konsisten dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran bersama.

Bagi tim UIN KHAS Jember, temuan lapangan seperti ini menjadi modal penting untuk memastikan pengabdian kepada masyarakat tidak hanya berbasis pada gagasan dari kampus, tetapi tumbuh dari realitas dan pengalaman masyarakat yang menjadi mitra pengabdian.


Penulis: Atiyatul Mawaddah

Editor: Muhammad Ghani Ramadhan

Fotografer: Denny Prabu Syahputra

Aksesibilitas
Ukuran Teks
Skala Abu-abu
Kontras Tinggi