Hari Ketiga Training Kurikulum Cinta UIN KHAS Jember Ditutup, Peserta Disiapkan Menjadi Trainer Pembelajaran
Humas - Kegiatan Training Peningkatan Kompetensi Pengajaran Dosen Berbasis Kurikulum Cinta yang digelar di Hotel Fortunagrande resmi ditutup pada Sabtu, 23 Mei 2026. Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari itu menghadirkan dua narasumber dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yakni Prof. Dr. Bermawy Munthe, M.A. dan Dr. Roni Ismail, M.Si..
Selama pelatihan, para peserta tidak hanya menerima materi konseptual tentang Kurikulum Cinta dan penguatan kompetensi pedagogik dosen, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik berbagai strategi pembelajaran aktif. Suasana pelatihan berlangsung dinamis karena peserta diminta mempraktikkan metode-metode pembelajaran secara bergantian dalam kelompok.
Sebanyak 18 strategi pembelajaran diperkenalkan dan dipraktikkan selama kegiatan, meliputi Bingo, Brainstorming, Concept Map, Do It Yourself (DIY), Drafting Guide, Guided Teaching, Focus Group Discussion, Benchmarking, Perceptions Students Have, Active Sharing Knowledge, The Power of Two, Metaplano Session, Reading Guide, Info Search, The Great Wall Pointer, Index Card Match, Everyone is a Teacher, hingga Jigsaw Learning.
Metode-metode tersebut dirancang untuk memperkuat pembelajaran partisipatif, membangun interaksi kelas yang lebih hidup, sekaligus mendorong mahasiswa aktif berpikir dan berkolaborasi dalam proses pembelajaran.
Selain strategi pembelajaran, peserta juga memperoleh penguatan terkait penyusunan tes alternatif untuk CPMK dan Sub-CPMK. Dalam sesi tersebut, narasumber menjelaskan pentingnya asesmen alternatif sebagai bagian dari pembelajaran berbasis kompetensi.
Tes alternatif dipandang tidak lagi sekadar mengukur kemampuan mengingat teori melalui paper and pen test, tetapi juga menilai kemampuan mahasiswa dalam menerapkan pengetahuan secara nyata. Model asesmen ini menuntut mahasiswa lebih kreatif, aktif, dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
Narasumber menjelaskan bahwa penilaian alternatif memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya menghargai proses belajar secara konsisten, memperkuat komunikasi dosen dan mahasiswa, memberikan umpan balik konstruktif, hingga mendorong mahasiswa mengembangkan gaya belajar yang sesuai dengan potensinya.
Dalam praktiknya, penilaian alternatif diterapkan melalui berbagai bentuk tugas yang dikenal dengan konsep “9P1R”, yakni Paper, Presentation, Participation, Practice, Performance, Project, Portfolio, Proposal Writing, Presence, dan Book Review.
Pada akhir pelatihan, peserta juga mendapatkan tugas penyusunan RPS dan outline pembelajaran dengan tenggat pengumpulan pada 6 Juni 2026. Tugas tersebut menjadi tindak lanjut dari seluruh materi yang telah dipelajari selama kegiatan berlangsung.
Dalam sambutan penutupan, Prof. Bermawy Munthe menegaskan bahwa pelatihan tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi pintu awal perubahan budaya mengajar dosen di perguruan tinggi.
Ia mendorong agar para dosen mulai menyusun buku ajar berbasis RPS yang telah dirancang selama pelatihan. Menurutnya, kualitas RPS yang baik akan menjadi fondasi utama dalam pengembangan bahan ajar dan transformasi pembelajaran di kampus.
“Setiap dosen harus punya bukunya sendiri. Tetapi syaratnya RPS-nya harus betul,” ujarnya.
Ia juga berharap peserta pelatihan dapat dipersiapkan menjadi trainer bagi dosen-dosen lain melalui program training of trainers (TOT). Menurutnya, regenerasi trainer penting agar transformasi pembelajaran dapat berjalan secara berkelanjutan tanpa terus bergantung pada narasumber dari luar kampus.
Sementara itu, Wakil Rektor I UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Prof. M. Khusna Amal yang menutup kegiatan secara resmi menyampaikan bahwa pelatihan tersebut lahir dari kebutuhan nyata kampus dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di tengah tantangan dunia pendidikan tinggi yang semakin kompleks.
Ia mengakui bahwa perguruan tinggi berbasis keagamaan memiliki tantangan besar dalam proses pendidikan karena harus mampu meningkatkan kualitas lulusan meski menghadapi karakter input mahasiswa yang beragam.
Karena itu, peningkatan kompetensi dosen menjadi langkah strategis agar proses pembelajaran mampu menghasilkan lulusan yang kompetitif.
“Yang kita harapkan bukan hanya tambahan wawasan, tetapi peningkatan skill secara teknis maupun substantif,” ujarnya.
Ia berharap 30 peserta pelatihan dapat menjadi lokomotif perubahan dalam peningkatan kualitas pembelajaran di lingkungan kampus. Para peserta juga didorong menjadi “virus positif” yang menularkan pengalaman, metode, dan keterampilan pembelajaran kepada dosen-dosen lainnya.
Lebih jauh, pihak kampus juga berencana menyiapkan program lanjutan berupa pelatihan trainer bagi peserta yang dinilai memiliki potensi kuat dalam pengembangan pembelajaran. Program tersebut diharapkan menjadi cikal bakal pusat peningkatan kompetensi pengajaran yang nantinya tidak hanya melayani kebutuhan internal kampus, tetapi juga penguatan kapasitas guru dan sekolah mitra di luar kampus.
Pelatihan yang berlangsung sejak 21 Mei 2026 itu ditutup dengan penuh antusias. Para peserta mengaku memperoleh perspektif baru mengenai pembelajaran aktif, penyusunan asesmen alternatif, hingga pengembangan kurikulum berbasis cinta yang lebih humanis dan relevan dengan tantangan generasi saat ini.
Penulis: Atiyatul Mawaddah
Editor: Munirotun Naimah
Fotografer: M. Ghani R