Hari Kedua Pelatihan, Mahasiswa UIN KHAS Jember Belajar Membaca Akar Persoalan dan Menguatkan Moderasi
Humas - Sebanyak 37 mahasiswa UIN KHAS Jember memasuki hari kedua Pelatihan Penguatan Moderasi Beragama dengan kemampuan yang tidak hanya diarahkan pada pemahaman konsep, tetapi juga cara membaca persoalan sosial dan merancang strategi penguatan moderasi di lingkungan mereka. Pelatihan kerja sama UIN KHAS Jember dan Pusbangkom MKMB tersebut berlangsung di Hotel Bintang Mulia Jember, Sabtu (24/10/2026), sebagai bagian dari rangkaian pelatihan yang berlangsung 23–25 Oktober 2026.
Hari kedua pelatihan membawa mahasiswa pada proses belajar yang lebih aplikatif. Mereka diajak melihat persoalan sosial secara lebih mendalam melalui Iceberg Analysis, sebuah perangkat analisis yang membantu peserta memahami bahwa sebuah persoalan yang tampak di permukaan biasanya memiliki akar masalah, pola, struktur, hingga cara pandang yang lebih dalam.
Pendekatan tersebut menjadi pintu masuk sebelum mahasiswa mempelajari konsep moderasi beragama, nilai-nilai universal, serta landasan teologisnya. Dengan cara ini, moderasi beragama tidak ditempatkan semata sebagai pengetahuan keagamaan, tetapi sebagai perspektif dalam membaca realitas dan merespons persoalan kehidupan bersama.
Materi kemudian berlanjut pada bedah sembilan kata kunci moderasi beragama. Pembahasan diarahkan agar mahasiswa tidak berhenti pada hafalan istilah, melainkan memahami makna dan relevansinya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berhadapan dengan perbedaan pandangan, identitas, maupun latar belakang sosial.
Memasuki sesi berikutnya, mahasiswa mendapatkan wawasan kebangsaan dan penguatan kapasitas diri sebagai pelopor atau penggerak moderasi beragama. Sesi ini menjadi bagian penting karena mahasiswa tidak hanya diposisikan sebagai penerima pengetahuan, tetapi juga sebagai kelompok yang memiliki ruang strategis untuk membawa nilai moderasi ke lingkungan kampus, organisasi mahasiswa, masyarakat, dan ruang digital.
Bagi peserta, rangkaian pembelajaran tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dari pembelajaran di ruang kelas. Lukman, salah seorang peserta pelatihan, menilai kegiatan yang dijalaninya selama pelatihan terasa menyenangkan sekaligus memberikan manfaat bagi dirinya. “Menurut saya, pelatihan ini menarik karena kami tidak hanya diajak memahami moderasi beragama secara konseptual, tetapi juga belajar membaca akar persoalan yang muncul di masyarakat. Iceberg Analysis, misalnya, membuat saya melihat bahwa sebuah masalah tidak bisa hanya dinilai dari apa yang tampak di permukaan. Dari sini saya merasa mendapatkan cara berpikir baru untuk memahami persoalan keberagamaan secara lebih kritis dan tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan,” ujarnya.
Rangkaian pembelajaran hari kedua ditutup dengan materi Strategi Penguatan Moderasi Beragama: Proses U pada malam hari. Melalui sesi tersebut, mahasiswa diarahkan memahami proses perubahan secara bertahap, mulai dari memahami kondisi, merefleksikan persoalan, hingga membangun langkah yang dapat mendorong perubahan sosial.
Sepanjang pelatihan, mahasiswa tidak hanya mengikuti paparan materi, tetapi juga didorong untuk berdiskusi, menganalisis persoalan, dan menghubungkan konsep moderasi beragama dengan realitas yang mereka temui. Pendekatan tersebut membuat proses pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa dan tantangan keberagamaan di masyarakat.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas generasi muda dalam merawat kehidupan bersama di tengah keberagaman. Mahasiswa diharapkan mampu membawa nilai-nilai moderasi beragama bukan hanya ke ruang akademik, tetapi juga ke organisasi, komunitas, keluarga, masyarakat, dan ruang digital yang kini menjadi bagian penting dari kehidupan generasi muda.
Dengan demikian, moderasi beragama tidak berhenti sebagai sebuah konsep yang dipelajari selama tiga hari. Ia diharapkan tumbuh menjadi cara berpikir dan sikap yang tercermin dalam kemampuan mahasiswa memahami perbedaan, mengelola persoalan sosial, serta mengambil peran sebagai pelopor kehidupan yang lebih damai dan inklusif.
Penulis: Atiyatul Mawaddah
Editor: Munirotun Naimah
Fotografer: Denny Prabu Syahputra