Berita

Dua Model Layanan Lansia Jadi Pijakan Pengembangan Pengabdian Kolaboratif UIN KHAS Jember

Bagikan:
Dua Model Layanan Lansia Jadi Pijakan Pengembangan Pengabdian Kolaboratif UIN KHAS Jember

Humas - Kebutuhan lansia tidak selalu berujung pada layanan panti sosial. Sebagian membutuhkan perlindungan sosial karena terlantar dan tidak memiliki dukungan keluarga yang memadai, sementara sebagian lainnya justru memilih lingkungan pesantren untuk memperdalam ibadah dan mencari ketenangan di masa tua.

Gambaran tersebut menjadi salah satu temuan dalam penggalian data untuk pengembangan Pengabdian Kolaboratif Berbasis Pemberdayaan, Kemandirian, dan Kesejahteraan Lansia yang dilakukan dosen UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember di Pondok Pesantren Kasepuhan Lansia Assunniyyah, Kencong, dan UPT Pelayanan Sosial Tresna Werdha (PSTW), Puger, Jember.

Di UPT PSTW Jember, layanan lansia berada dalam skema perlindungan sosial pemerintah melalui Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Kepala Seksi Bimbingan Sosial (Kasi Bimsos) UPT PSTW Jember, Agus Hernawan, S.Sos., menjelaskan bahwa pelayanan diberikan secara gratis bagi lansia yang membutuhkan perlindungan sosial.

Menurut hasil penggalian data tersebut, calon penerima manfaat di PSTW pada dasarnya merupakan lansia berusia minimal 60 tahun yang terlantar, tidak memiliki tempat tinggal tetap, atau berasal dari keluarga yang tidak mampu secara sosial-ekonomi. Kondisi kesehatan dan kesiapan lansia juga menjadi bagian dari pertimbangan penerimaan.

Menariknya, penerimaan lansia di PSTW tidak dilakukan dengan cara datang langsung ke panti. Ada tahapan pelaporan dan koordinasi dengan pemerintah desa atau dinas sosial, dilanjutkan penjangkauan dan asesmen kondisi sosial, ekonomi, serta kesehatan. Jika memenuhi persyaratan, Dinas Sosial Kabupaten menerbitkan rekomendasi rujukan sebelum proses serah terima dan penempatan dilakukan di PSTW.

Model yang berbeda ditemukan di Pondok Pesantren Kasepuhan Lansia Assunniyyah. Di tempat ini, lansia hadir bukan semata karena persoalan keterlantaran, melainkan sebagai “Santri Kasepuhan” yang ingin memperdalam agama, memperbanyak ibadah, dan mencari ketenangan jiwa pada masa tua.

Karena berbasis kehidupan pesantren, kesiapan lansia untuk hidup secara mandiri menjadi salah satu pertimbangan penting. Lansia diharapkan masih mampu menjalankan aktivitas sehari-hari dan memiliki kondisi psikologis yang memungkinkan untuk mengikuti kehidupan bersama santri kasepuhan lainnya.

Proses masuknya pun memiliki karakter tersendiri. Keluarga atau calon santri lansia terlebih dahulu melakukan sowan dan silaturahmi dengan pengasuh atau pengurus. Setelah itu dilakukan wawancara atau asesmen ringan untuk melihat kesiapan mental, kondisi kesehatan, serta kesesuaian lansia dengan kehidupan di lingkungan pesantren.

Dua model tersebut memperlihatkan bahwa pemberdayaan lansia membutuhkan pendekatan yang tidak seragam. Lansia yang membutuhkan perlindungan sosial memerlukan mekanisme asesmen, pendampingan, dan layanan kesejahteraan. Sementara itu, lansia yang memilih kehidupan pesantren membutuhkan ruang pembinaan keagamaan, interaksi sosial, serta lingkungan yang mendukung ketenangan dan kemandirian.

Temuan lapangan ini menjadi pijakan bagi dosen UIN KHAS Jember untuk menyusun arah pengabdian yang lebih kontekstual. Sebelumnya, kegiatan penguatan kapasitas dosen diarahkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai pengabdian berbasis pemberdayaan, kemandirian, dan kesejahteraan lansia sekaligus menggali potensi, kebutuhan, dan persoalan yang dapat menjadi dasar pengembangan program kolaboratif.

Tahap penggalian data yang dijadwalkan pada Oktober 2026 di kedua lokasi tersebut secara khusus diarahkan untuk memperoleh informasi mengenai potensi, kebutuhan, kondisi, dan permasalahan lansia. Data tersebut selanjutnya menjadi dasar dalam merancang program pengabdian yang tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi berorientasi pada pemberdayaan, peningkatan kemandirian, dan kesejahteraan lansia.

Dengan pendekatan tersebut, pengabdian perguruan tinggi diharapkan tidak hadir dengan program yang seragam, tetapi berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan. Perbedaan karakter antara layanan sosial pemerintah dan pesantren lansia justru membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi dosen lintas bidang untuk menghadirkan model pendampingan yang sesuai dengan kondisi dan pilihan hidup lansia.


Penulis: Atiyatul Mawaddah

Editor: Muhammad Ghani Ramadhan

Fotografer: Denny Prabu Syahputra

Aksesibilitas
Ukuran Teks
Skala Abu-abu
Kontras Tinggi