Dari Pesantren ke Perguruan Tinggi, UIN KHAS Jember Dorong Generasi Berprestasi dan Siap Kuliah
Humas - Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember terus memperluas ruang edukasi publik melalui program podcast kampus bertajuk PODKHAS. Salah satu program unggulannya, Titik Temu, resmi mengudara melalui kanal YouTube UIN KHAS Jember pada 26 Mei 2026 dengan mengangkat tema “Dari Pesantren ke Perkuliahan: Membangun Generasi Berprestasi dan Siap Kuliah”.
Episode perdana tersebut menghadirkan dua narasumber yang selama ini aktif membina pendidikan madrasah di Kabupaten Lumajang, yakni Hasan Asy’iri, Ketua KKMA Kabupaten Lumajang, serta Agus Supriyadi, Ketua Lembaga Bimbingan Karier (LBK) Ma’had Aly Nurul Qadim. Diskusi dipandu oleh Ainun Zamilah, M.E., dosen Fakultas Syariah UIN KHAS Jember.
Selama lebih dari 20 menit, perbincangan mengulas potensi, tantangan, dan strategi yang dilakukan madrasah aliyah berbasis pesantren dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan kesiapan melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Hasan Asy’iri menjelaskan bahwa Kabupaten Lumajang saat ini memiliki sekitar 89 Madrasah Aliyah dengan beragam program unggulan yang berorientasi pada pengembangan prestasi siswa dan guru. Menurutnya, seluruh lembaga madrasah di bawah koordinasi KKMA didorong untuk memiliki program pembinaan prestasi yang terintegrasi.
“Prestasi tidak hanya menjadi target siswa, tetapi juga guru madrasah. Karena itu kami terus membangun ekosistem yang mendorong lahirnya budaya kompetitif dan inovatif di lingkungan madrasah,” ujarnya.
Ia menambahkan, kehadiran UIN KHAS Jember melalui berbagai program pengabdian dan sosialisasi pendidikan tinggi turut memberikan motivasi bagi madrasah untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Sementara itu, Agus Supriyadi menegaskan bahwa Madrasah Aliyah saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai lembaga pendidikan yang hanya unggul dalam bidang keagamaan. Menurutnya, madrasah telah berkembang menjadi institusi pendidikan yang memberikan ruang luas bagi pengembangan minat dan bakat siswa.
“Madrasah memiliki keunggulan pada aspek keagamaan dan pembentukan karakter. Namun pada saat yang sama, siswa madrasah juga didorong mengikuti berbagai kompetisi akademik, olahraga, sains, hingga karya tulis ilmiah yang diselenggarakan oleh berbagai kementerian,” kata Agus.
Ia menjelaskan bahwa siswa madrasah di Lumajang secara rutin mengikuti Kompetisi Sains Madrasah (KSM), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), lomba jurnalistik, hingga berbagai kompetisi akademik tingkat regional maupun nasional.
Menurut Agus, pola pembinaan prestasi dilakukan secara berjenjang. Setiap madrasah diwajibkan mengadakan kompetisi internal untuk menjaring siswa berprestasi. Para juara kemudian dipertemukan pada tingkat wilayah, sebelum akhirnya bersaing pada level kabupaten dan berhadapan dengan siswa dari sekolah umum.
“Melalui sistem itu kami bisa memetakan kekuatan dan kelemahan siswa. Hasil evaluasi kemudian menjadi dasar pembinaan berikutnya,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, kedua narasumber juga menyoroti keunggulan madrasah berbasis pesantren dalam membangun karakter peserta didik. Agus menyebut lingkungan pesantren yang berlangsung selama 24 jam memberikan ruang lebih luas untuk menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan spiritualitas.
Salah satu program yang menjadi ciri khas madrasah di Lumajang adalah Gerakan Santri Lumajang. Program ini dilaksanakan setiap hari Kamis dengan melibatkan seluruh warga madrasah, mulai dari tenaga kependidikan, guru, hingga siswa.
Melalui program tersebut, seluruh peserta didik mengenakan busana santri dan memulai kegiatan belajar dengan membaca Al-Qur’an serta wirid sesuai tradisi masing-masing lembaga.
“Gerakan ini bukan hanya simbolik, tetapi bagian dari upaya membangun identitas dan karakter siswa madrasah,” kata Hasan.
Pembahasan kemudian mengarah pada kesiapan lulusan madrasah dalam memasuki dunia perguruan tinggi. Hasan menegaskan bahwa berbagai kegiatan kompetisi dan pengembangan prestasi yang dilakukan selama masa pendidikan menengah sesungguhnya merupakan bekal penting bagi siswa untuk menghadapi tantangan di jenjang yang lebih tinggi.
“Prestasi menjadi indikator potensi dan kapasitas siswa. Ketika mereka terbiasa mengikuti kompetisi, menulis karya ilmiah, atau terlibat dalam berbagai kegiatan akademik, mereka akan lebih siap menghadapi dunia perkuliahan,” ujarnya.
Agus bahkan membagikan pengalaman menarik mengenai seorang siswa jurusan IPS yang berhasil diterima pada Program Studi Tadris IPA. Kisah tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa siswa madrasah memiliki peluang yang sama untuk menempuh berbagai bidang keilmuan selama memiliki kemauan belajar dan dukungan yang memadai.
“Madrasah saat ini sudah sangat fleksibel. Siswa dapat mengembangkan minat sesuai potensi yang dimiliki. Tidak lagi terbatas pada bidang keagamaan semata,” katanya.
Data yang disampaikan Hasan menunjukkan bahwa sekitar 40 persen lulusan Madrasah Aliyah di Kabupaten Lumajang berhasil melanjutkan studi ke perguruan tinggi negeri. Sebagian besar diterima di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri, termasuk UIN KHAS Jember, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan sejumlah kampus negeri lainnya.
Meski demikian, tantangan baru terus bermunculan. Salah satunya adalah perubahan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan teknologi digital yang menuntut siswa memiliki kompetensi lintas bidang.
Karena itu, madrasah mulai menerapkan kurikulum yang lebih fleksibel melalui pendekatan diferensiasi pembelajaran dan penguatan Kurikulum Berbasis Cinta yang dikembangkan Kementerian Agama.
Menurut Agus, model pembelajaran tersebut memungkinkan siswa memilih mata pelajaran sesuai minat dan rencana studi mereka di masa depan, termasuk bidang vokasi seperti otomotif, teknologi, maupun seni.
“Jangan lagi memandang madrasah secara sempit. Madrasah hari ini sudah mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan dan cita-cita peserta didik,” ujarnya.
Menjelang akhir diskusi, kedua narasumber menyampaikan pesan kepada para siswa yang masih ragu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Hasan mengingatkan bahwa kuliah merupakan investasi penting untuk masa depan. Menurutnya, lulusan madrasah memiliki modal akademik dan karakter yang kuat untuk bersaing di perguruan tinggi maupun dunia kerja.
Senada dengan itu, Agus menegaskan bahwa era digital dan disrupsi teknologi menuntut generasi muda untuk terus meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan tinggi.
“Sekarang bukan lagi zamannya lulusan MA langsung menikah. Ini zamannya lulusan MA melanjutkan kuliah agar memiliki bekal yang cukup menghadapi tantangan masyarakat yang semakin kompleks,” katanya.
Melalui episode perdana Titik Temu, PODKHAS UIN KHAS Jember tidak hanya menghadirkan ruang dialog antara kampus dan masyarakat, tetapi juga memperkuat pesan bahwa madrasah dan pesantren memiliki peran strategis dalam melahirkan generasi berprestasi, berkarakter, dan siap menghadapi dunia perguruan tinggi.
Podcast tersebut dapat disaksikan melalui kanal YouTube UIN KHAS Jember sebagai bagian dari upaya kampus membangun literasi pendidikan dan memperluas akses informasi bagi masyarakat.
Penulis: Atiyatul Mawaddah
Editor: Munirotun Naimah