Mahasiswa hingga UMKM Terlibat, UIN KHAS Jember Tegaskan Diri sebagai PTKIN Berdampak
Humas - Halaman Rektorat UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember sejak Kamis, 5 Maret 2026, menjelma menjadi ruang temu yang hidup. Tenda-tenda berdiri rapi, aroma takjil menguar, dan percakapan hangat mengalir di antara mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, serta pelaku UMKM sekitar kampus. Selama enam hari, hingga 10 Maret 2026, Bazar Kampus Ramadan menjadi bukti bahwa kampus keagamaan tidak hanya memproduksi wacana, tetapi juga dampak.
Bazar yang dibuka setiap pukul 14.00–19.00 WIB itu menghadirkan beragam produk: makanan ringan, hidangan berbuka, minuman segar, hingga pakaian. Namun yang lebih penting dari ragam dagangan adalah ragam partisipasi. Mahasiswa tidak hanya menjadi pembeli, tetapi juga pelaku usaha. Sejumlah stan dikelola langsung oleh mahasiswa lintas fakultas, yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk mengasah keterampilan kewirausahaan.
Di sisi lain, UMKM di sekitar kampus mendapat ruang strategis untuk memperluas pasar. Kolaborasi ini tidak hadir secara sporadis, melainkan dirancang bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN KHAS Jember dan Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Jember. Kampus membuka ruang; masyarakat mengisinya; ekonomi bergerak.
Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM, dalam sambutan pembukaan menegaskan bahwa Ramadan adalah momentum strategis untuk menguatkan solidaritas sosial sekaligus pemberdayaan ekonomi umat. “Bazar ini bukan sekadar aktivitas jual beli. Ia adalah ajang silaturahmi, berbagi kegembiraan, dan penguatan ekonomi keumatan,” ujarnya.
Prof. Hepni menekankan, perguruan tinggi Islam tidak boleh terjebak menjadi “menara gading” yang terpisah dari realitas sosial. Kampus, katanya, harus hadir sebagai kekuatan yang mengalirkan manfaat. Generasi unggul bukan hanya kuat secara intelektual dan spiritual, tetapi juga tangguh secara finansial dan logistik. “Semangat memberi harus lebih kuat daripada semangat menerima. Dari sinilah ekonomi kreatif dan inovasi tumbuh,” katanya.
Penegasan serupa disampaikan Kepala Biro AUPK UIN KHAS Jember, Dr. H. Nawawi, M.Fil.I. Dalam laporannya, ia menyebut bazar sebagai bagian dari komitmen institusi untuk menggerakkan pelaku usaha di sekitar kampus. “Perekonomian adalah urat nadi kehidupan. Tanpanya, perjuangan dan peradaban akan stagnan. Karena itu, kampus harus ikut mengambil peran,” ujarnya.
Menurut Dr. Nawawi, publik kerap mengenal Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) sebatas institusi yang bergerak di ranah akademik dan ritual keagamaan. Melalui kegiatan semacam ini, UIN KHAS Jember ingin menunjukkan wajah lain yakni kampus yang peduli pada sirkulasi ekonomi lokal dan kesejahteraan masyarakat.
Keterlibatan mahasiswa hingga UMKM sekitar kampus menjadikan bazar ini sebagai laboratorium sosial yang konkret. Mahasiswa belajar manajemen usaha dan pelayanan public sedangkan UMKM memperoleh akses pasar dan jejaring serta sivitas akademika membangun kultur belanja yang mendukung produk lokal. Di titik inilah kampus menjalankan fungsi tridharma secara lebih kontekstual.
Ramadan memang bulan spiritual. Namun di UIN KHAS Jember, ia juga menjadi bulan penguatan ekosistem ekonomi. Transaksi di bawah tenda-tenda sederhana itu menyimpan makna lebih dalam.
Enam hari bazar mungkin terhitung singkat. Tetapi pesan yang dibawanya tegas, UIN KHAS Jember berikhtiar menjadi PTKIN yang berdampak dengan hadir di tengah masyarakat, menggerakkan roda ekonomi, dan menjadikan ilmu sebagai energi pemberdayaan.
Penulis: Atiyatul Mawaddah
Editor: Munirotun Naimah



