Siraman Rohani Ramadan di UNEJ, Rektor UIN KHAS Jember Ajak Menebar Kebaikan dan Kebahagiaan
Humas - Suasana Masjid Al-Hikmah Universitas Jember pada Jumat pagi, 6 Maret 2026, terasa berbeda. Karpet merah terbentang rapi, para pimpinan universitas duduk berjejer di bagian depan, sementara jamaah mulai memenuhi ruang utama masjid. Di tengah suasana Ramadan yang khidmat, Universitas Jember menggelar kegiatan Siraman Rohani Ramadan 1447 H dengan tema “Menebar kebaikan dan kebahagiaan di bulan Ramadan.”
Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB itu menghadirkan Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM., sebagai penceramah utama. Kehadiran pimpinan dari Universitas Jember turut menambah khidmat acara, di antaranya Rektor Universitas Jember, Wakil Rektor I, Wakil Rektor III, Wakil Rektor IV, Ketua Senat, serta Ketua Takmir Masjid Al-Hikmah.

Di hadapan jamaah yang hadir secara langsung maupun secara daring melalui live youtube, Prof. Hepni membuka ceramahnya dengan refleksi sederhana tentang makna Ramadan sebagai momentum pembentukan karakter spiritual manusia. Menurutnya, Ramadan bukan sekadar ibadah ritual seperti puasa, melainkan ruang latihan untuk melatih kepekaan sosial dan memperluas lingkaran kebaikan.
“Ramadan adalah madrasah kehidupan,” ujarnya. “Di dalamnya, manusia diajak untuk belajar mengendalikan diri, menumbuhkan empati, serta menebarkan kebahagiaan kepada sesama.”
Ia menjelaskan bahwa inti dari menebar kebaikan tidak selalu harus berbentuk sesuatu yang besar. Dalam pandangannya, kebaikan sering kali lahir dari hal-hal sederhana: senyum yang tulus, kata yang menenangkan, atau kesediaan membantu orang lain tanpa pamrih. Namun, jika dilakukan secara konsisten, kebaikan kecil itu mampu menciptakan dampak sosial yang luas.
Prof. Hepni juga menyinggung pentingnya membangun ekosistem kebahagiaan dalam kehidupan sosial, termasuk di lingkungan akademik. Kampus, menurutnya, tidak hanya menjadi tempat produksi ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan.
“Ilmu yang tidak disertai akhlak hanya akan melahirkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan,” katanya. “Karena itu, Ramadan mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya lahir dari pencapaian intelektual, tetapi dari kemampuan berbagi dan memuliakan orang lain.”
Dalam ceramahnya, Prof. Hepni menguraikan tiga dimensi utama dalam menebar kebaikan di bulan Ramadan. Pertama, kebaikan spiritual, yakni memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan melalui ibadah yang lebih khusyuk. Kedua, kebaikan sosial, yaitu menghadirkan kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang membutuhkan. Ketiga, kebaikan ekologis, yakni menjaga lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
Ia menegaskan bahwa ketiga dimensi tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Spiritualitas tanpa kepedulian sosial akan kehilangan maknanya, sementara kepedulian sosial tanpa landasan spiritual sering kali kehilangan arah.
“Ramadan mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang utuh, yakni beriman, peduli, dan bertanggung jawab terhadap alam,” ujarnya.
Suasana masjid sempat hening ketika Prof. Hepni mengajak jamaah merenungkan makna kebahagiaan. Menurutnya, kebahagiaan sejati tidak lahir dari kepemilikan materi semata, tetapi dari kemampuan memberi manfaat bagi orang lain.
“Jika kita ingin merasakan kebahagiaan yang lebih dalam,” katanya, “maka jadilah sumber kebahagiaan bagi orang lain.”
Bagi lingkungan perguruan tinggi, pesan ini terasa relevan. Kampus tidak hanya memikul tanggung jawab akademik, tetapi juga tanggung jawab moral dalam membangun masyarakat yang lebih beradab.
Kegiatan siraman rohani tersebut menjadi bagian dari rangkaian program Ramadan yang diselenggarakan Universitas Jember. Selain memperkuat spiritualitas sivitas akademika, kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi antar pimpinan dan warga kampus dalam suasana Ramadan yang penuh kehangatan.
Menjelang akhir ceramah, Prof. Hepni kembali menegaskan bahwa Ramadan seharusnya meninggalkan jejak perubahan dalam diri manusia. Jika Ramadan hanya berlalu sebagai rutinitas tahunan, maka pesan spiritualnya belum sepenuhnya terserap.
“Ramadan adalah kesempatan memperbaiki diri,” tuturnya. “Dan kebaikan yang kita mulai hari ini, semoga tidak berhenti ketika Ramadan berakhir.”
Jamaah pun menutup kegiatan pagi itu dengan doa bersama. Di tengah cahaya matahari yang mulai masuk dari jendela-jendela masjid, pesan tentang kebaikan dan kebahagiaan terasa menggema, seolah mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar waktu, melainkan perjalanan menuju manusia yang lebih baik.
Penulis: Atiyatul Mawaddah
Editor: Munirotun Naimah



