info@uinkhas.ac.id (0331) 487550

Ramadhan sebagai Momentum Re-Branding Ekonomi Syariah, FEBI UIN KHAS Jember Gelar Studium Generale

Home >Berita >Ramadhan sebagai Momentum Re-Branding Ekonomi Syariah, FEBI UIN KHAS Jember Gelar Studium Generale
Diposting : Rabu, 25 Feb 2026, 08:19:25 | Dilihat : 62 kali
Ramadhan sebagai Momentum Re-Branding Ekonomi Syariah, FEBI UIN KHAS Jember Gelar Studium Generale


Humas  – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember menggelar  Studium Generale bertema “Ramadhan sebagai Momentum Re-Branding Ekonomi Syariah: Dari Konsumerisme Menuju Kedaulatan Finansial Umat” pada Senin (23/2/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Kuliah Terpadu (GKT) Lantai 3 tersebut menghadirkan Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM, sebagai narasumber utama dan diikuti ratusan mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai upaya akademik untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap tantangan dan peluang ekonomi syariah, khususnya dalam momentum bulan Ramadhan yang kerap diwarnai peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat.

Dalam pemaparannya, Prof. Hepni menegaskan bahwa ekonomi syariah harus dibangun di atas fondasi integritas, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan finansial. Menurutnya, keberhasilan sistem ekonomi umat tidak cukup hanya mengandalkan teori, tetapi juga memerlukan karakter pelaku ekonomi yang beretika dan berorientasi pada kemaslahatan.

Dalam orasi ilmiah Beliau menyoroti adanya fenomena “Paradoks Ekonomi Ramadhan”. Ia menjelaskan bahwa esensi ibadah puasa Adalah menekan hawa nafsu dan mengedepankan kesederhanaan, tapi dalam realitanya budaya konsumtivisme  masyarakat justru meningkat tajam di bulan suci ini.

Menurutnya, pola belanja berlebihan, meningkatnya permintaan barang non-prioritas, hingga budaya pamer konsumsi menjadi tantangan serius dalam membangun kedaulatan finansial umat. Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut berpotensi melemahkan daya tahan ekonomi keluarga dan memperbesar ketimpangan sosial.

Sebagai langkah strategis, ia menawarkan tiga pilar utama dalam re-branding ekonomi syariah.

Pertama, transformasi citra, yakni mengubah persepsi publik bahwa ekonomi syariah bukan sekadar identik dengan label halal, melainkan sistem ekonomi berkeadilan yang berpijak pada prinsip Maqashid Syariah.

Kedua, transformasi perilaku, dengan mendorong perubahan dari budaya konsumtif menuju budaya produktif dan berdaya, seperti meningkatkan literasi keuangan, menumbuhkan semangat kewirausahaan, serta mengoptimalkan instrumen zakat, infak, sedekah, dan wakaf secara produktif.

Ketiga, pemberdayaan berkelanjutan dengan menciptakan kemandirian finansial yang kokoh untuk seluruh lapisan umat.

Selain itu, Prof. Hepni juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Ia mendorong mahasiswa untuk menguasai bahasa asing, teknologi digital, serta kompetensi profesional agar mampu bersaing di tingkat global.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang membahas strategi konkret implementasi ekonomi syariah di lingkungan kampus dan masyarakat. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi mahasiswa dalam menyampaikan gagasan dan pertanyaan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan mampu menanamkan kesadaran kritis sekaligus semangat inovasi kepada mahasiswa untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik tolak perubahan pola pikir dan perilaku ekonomi. Studium Generale tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ekonomi syariah yang berkontribusi nyata terhadap kemandirian dan kedaulatan finansial bangsa.

Penulis: Munirotun Naimah
Editor: Cahya Fikri Mohammad

 

;