Menguatkan Shalat, Membangun Moral, Mencerahkan Peradaban: Lepas Pisah Takmir Masjid Sunan Ampel dan Refleksi Isra’ Mi’raj di UIN KHAS Jember
Humas - Menjelang tengah hari, Selasa, 20 Januari 2026, Masjid Sunan Ampel UIN KHAS Jember tampak lebih teduh dari biasanya. Cahaya siang jatuh perlahan ke lantai, berpadu dengan suara langkah para jamaah yang datang bukan sekadar untuk menunaikan shalat, melainkan juga untuk menghadiri sebuah peristiwa batin, yakni lepas pisah Ketua Takmir Masjid Sunan Ampel sekaligus refleksi Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Pukul 11.20 WIB, kegiatan dimulai dengan shalat Dzuhur berjamaah. Di balik saf-saf yang rapat, hadir Rektor, Ketua dan Sekretaris Senat, para Wakil Rektor, para Dekan dan Direktur Pascasarjana, para Ketua Tim Kerja, serta seluruh staf rektorat. Shalat dipimpin oleh Dr. Muhammad Muhib Alwi, M.A., dengan kekhusyukan yang seolah menahan waktu dengan sebuah jeda di tengah rutinitas akademik yang padat.
Usai shalat, acara mengalir dengan khidmat. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Dr. KH. Pujiono, M.Ag. membuka ruang perenungan, disusul istighasah yang dipimpin Dr. Achmad Fathor Rosyid, S.Sos., M.Si. Do'a-do'a bergema pelan, menyatukan nalar kampus dengan kerendahan hati seorang hamba.
Momentum lepas pisah takmir lama ditandai dengan penyerahan cinderamata. Tak lama berselang, pengukuhan takmir baru dilakukan, menandai estafet amanah yang berpindah dengan penuh hormat. Masjid, sekali lagi, menunjukkan dirinya bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan ruang peradaban yang hidup oleh orang-orang yang merawatnya.
Dalam arahannya, Rektor UIN KHAS Jember, Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM., mengajak hadirin untuk menjadikan momen ini sebagai refleksi bersama. Ia berbicara dengan nada tenang, sesekali mengajak jamaah menengok ke dalam, sejauh mana ajaran Rasulullah benar-benar dihidupi, bukan sekadar dirayakan.
Rektor menyinggung peringatan hari besar Islam yang berlangsung sederhana, sementara substansi ajaran sering kali belum sepenuhnya menjelma menjadi perilaku. “Syariat harus mantep,” ujarnya, menegaskan bahwa kekuatan Islam bukan pada seremoni, melainkan pada konsistensi shalat, kedisiplinan berjamaah, dan kesungguhan mengambil pelajaran.
Lebih jauh, ia menempatkan masjid sebagai pusat kehidupan kampus: pusat dakwah, pusat penguatan moral, sekaligus pusat kemanusiaan. Masjid, menurutnya, harus dimakmurkan dan sekaligus memakmurkan yakni hadir untuk membantu pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial. Di sanalah shalat bertemu dengan keadilan sosial, dan dzikir bertaut dengan tanggung jawab kemanusiaan.
Refleksi itu menemukan kedalaman maknanya saat Prof. Dr. Fawaizul Umam, M.Ag., Dekan Fakultas Dakwah sekaligus mubaligh, menyampaikan Spiritual Expounding Isra’ Mi’raj. Dengan gaya reflektif, ia mengajak jamaah memahami Isra’ Mi’raj bukan hanya sebagai peristiwa historis, tetapi sebagai “peringatan” dalam arti yang lebih dalam sebuah warning spiritual.
Isra’ Mi’raj, tuturnya, adalah cara Allah menghibur Rasulullah di tengah kesedihan dan tekanan hidup. Dari sana, umat diajak belajar untuk tidak berputus asa, karena setiap perjalanan selalu menyimpan penghiburan ilahi. Shalat, yang menjadi buah utama Isra’ Mi’raj, diposisikan bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana perjalanan batin menuju Allah. Pertanyaannya sederhana namun menggugah: benarkah shalat telah benar-benar menggerakkan hidup kita menuju kebaikan?
Acara ditutup dengan doa yang dipanjatkan Prof. Dr. H. Sofyan Tsauri, M.M. Saat jamaah beranjak meninggalkan masjid, suasana terasa berbeda. Seolah setiap orang membawa pulang bukan hanya catatan acara, melainkan juga pertanyaan dan tekad baru.
Penulis: Atiyatul Mawaddah
Editor: Munirotun Naimah



