Guru Besar dan Tanggung Jawab Kemanusiaan
Refleksi Pidato Pengukuhan Prof. Rodliyah dan Prof. Nurul di UIN KHAS Jember
Pengukuhan guru besar bukanlah sekadar seremoni akademik yang menandai puncak karier seorang dosen. Dalam pidato pengukuhan Prof. Rodliyah dan Prof. Nurul, Prof. Hepni—Rektor UIN KHAS Jember—menegaskan satu pesan fundamental: guru besar tidak diukur oleh gelarnya, melainkan oleh dampak ilmunya bagi kemanusiaan. Ilmu pengetahuan, dalam pandangan ini, tidak boleh berhenti pada ruang dogmatis dan menara gading akademik, tetapi harus hadir menjawab persoalan sosial, merawat kemanusiaan, dan menggerakkan perubahan.
Ilmu yang Hidup dan Membumi
Prof. Hepni mengingatkan bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang hidup—yang berdenyut bersama realitas sosial. Ketika ilmu terjebak pada dogmatisme, ia kehilangan daya transformasinya. Sebaliknya, ilmu yang kontekstual dan responsif akan menjadi energi etik yang mampu menjawab krisis kemanusiaan: ketidakadilan, ketimpangan, dan degradasi nilai. Inilah horizon etik keilmuan yang menjadi fondasi pengukuhan dua profesor UIN KHAS Jember.
Prof. Nurul: Nobility of Knowledge
Dalam refleksi atas nama Nurul, Prof. Hepni menguraikan nilai-nilai yang membentuk karakter keilmuan seorang guru besar:
• Nobility: Keluhuran ilmu yang melahirkan kebijaksanaan, bukan kesombongan akademik.
• Upgrading: Kesediaan untuk terus bertumbuh, memperbarui perspektif, dan melampaui zona nyaman.
• Responsif: Kepekaan terhadap perubahan zaman dan problem sosial yang terus bergerak.
• Understanding: Pendalaman makna kehadiran ilmu—bukan sekadar memahami objek, tetapi memaknai relasi kemanusiaan.
• Literatif: Komitmen literasi sebagai jantung peradaban akademik; membaca realitas dan menuliskannya sebagai kontribusi publik.
Rangkaian nilai ini membentuk cahaya ilmu (nur) yang tidak hanya menerangi ruang kelas, tetapi juga ruang-ruang sosial tempat manusia mencari keadilan dan harapan.
Prof. Rodliyah : Etika Pengabdian Ilmu
Sementara itu, refleksi atas nama Rodiah (Ridlo) menegaskan etos pengabdian keilmuan yang berakar pada nilai-nilai praksis:
• Respectful: Ilmu yang menghormati martabat manusia dan perbedaan.
• Inspiratif: Keilmuan yang menggerakkan, bukan membekukan.
• Dedikatif: Totalitas pengabdian pada tri dharma perguruan tinggi.
• Loyalty: Kesetiaan pada nilai, institusi, dan panggilan keilmuan.
• Adaptif: Kemampuan membaca perubahan tanpa kehilangan jati diri.
Nilai-nilai ini menjadikan ilmu bukan sekadar wacana, melainkan laku etis yang hadir dalam tindakan nyata.
Guru Besar sebagai Penjaga Nurani Sosial
Dalam pidato pengukuhan ini, Prof. Hepni seakan menegaskan kembali posisi guru besar sebagai penjaga nurani sosial. Guru besar bukan hanya produsen pengetahuan, tetapi juga penjaga nilai dan pengarah peradaban. Dari Prof. Nurul dan Prof. Rodliyah, UIN KHAS Jember meneguhkan visi keilmuan yang integratif—memadukan iman, ilmu, dan amal dalam praksis akademik.
Penutup: Dari Gelar ke Gerak
Akhirnya, pengukuhan ini mengajarkan bahwa puncak akademik bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal tanggung jawab yang lebih besar. Guru besar sejati adalah mereka yang menjadikan ilmunya bermakna bagi sesama. Dari Nurul yang menerangi dan Ridlo yang menuntun, UIN KHAS Jember mengukuhkan komitmen: ilmu harus berdampak, dan dampak itu harus memuliakan kemanusiaan.
Penulis: Dr. Fauzan




