info@uinkhas.ac.id (0331) 487550

Ngaji Ratibul Haddad di Rektorat, Pimpinan UIN KHAS Jember Teguhkan Spirit Dzikir Kolektif

Home >Berita >Ngaji Ratibul Haddad di Rektorat, Pimpinan UIN KHAS Jember Teguhkan Spirit Dzikir Kolektif
Diposting : Jumat, 27 Feb 2026, 14:53:34 | Dilihat : 22 kali
Ngaji Ratibul Haddad di Rektorat, Pimpinan UIN KHAS Jember Teguhkan Spirit Dzikir Kolektif


Ruang Rapat Lantai 1 Rektorat UIN KHAS Jember, Kamis (26/2/2026) sore, tampak berbeda dari biasanya. Sejak pukul 15.00 WIB, jajaran pimpinan universitas berkumpul bukan untuk rapat administratif, melainkan untuk mengikuti Ngaji Ratibul Haddad bersama KH. M. Hisyam Rifqie.

Hadir dalam kegiatan tersebut Rektor Prof. Dr. H. Hepni, S.Ag., M.M., CPEM., Wakil Rektor I Prof. Dr. M. Khusna Amal, S.Ag., M.Si., Wakil Rektor II Ainur Rafik, dan Wakil Rektor III Dr. Khoirul Faizin, M.Ag.. Turut serta Kepala Biro AUPK Nawawi Dr. H. Nawawi, M.Fil.I., para Dekan, Direktur dan Wakil Direktur Pascasarjana, para ketua Lembaga, Kepala SPI, para kepala UPT, kabag umum dan akademik, para kabag fakultas, kasubbag layanan akademik, kasubbag pascasarjana, hingga para ketua tim kerja universitas.

Kegiatan ini menjadi penegasan bahwa tata kelola kelembagaan di kampus Islam tidak semata bertumpu pada instrumen manajerial, tetapi juga pada penguatan dimensi spiritual kolektif. Ratib, sebagai salah satu tradisi wirid yang hidup dalam khazanah Ahlussunnah wal Jama’ah, ditempatkan sebagai medium penyatuan hati dan orientasi kerja. 

Salah satu ratib yang paling luas diamalkan adalah Ratib Al-Haddad, yang disusun oleh ulama besar Hadramaut, Abdullah bin Alawi al-Haddad. Ia dikenal sebagai mujaddid pada masanya, dengan karya-karya penting seperti an-Nashaih ad-Diniyah, Risalah al-Mu’awanah, dan an-Nafais al-‘Alawiyah fi al-Masa’il as-Shufiyah.

Ratib ini disusun pada tahun 1071 Hijriah, dalam konteks sosial-keagamaan Hadramaut yang tengah menghadapi kekhawatiran masuknya pengaruh Syiah Zaidiyah. Para pemuka masyarakat meminta kepada al-Haddad agar menyusun bacaan yang dapat mengokohkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah di kalangan awam. Dari kebutuhan itulah Ratib Al-Haddad lahir dan kemudian menyebar luas ke berbagai penjuru dunia Islam.

Di lingkungan kampus, pembacaan Ratibul Haddad secara berjamaah menghadirkan dimensi lain, yakni solidaritas spiritual di antara para pemangku kebijakan. Dalam suasana khidmat, ayat-ayat dzikir dilantunkan bersama, mencairkan sekat struktural dan menghadirkan kesadaran bahwa jabatan adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.

Ngaji Ratibul Haddad sore itu tidak hanya menjadi ritual rutin, tetapi juga pengingat bahwa universitas Islam berdiri di atas fondasi ilmu dan dzikir sekaligus. Di tengah dinamika pengelolaan institusi, para pimpinan meneguhkan kembali orientasi batin. Sebagaimana harapan yang mengiringi majelis tersebut, istiqamah dalam mengamalkan Ratib Al-Haddad diharapkan tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjelma etos spiritual yang menjiwai kebijakan, pelayanan, dan seluruh gerak akademik di UIN KHAS Jember.

Penulis: Atiyatul Mawaddah
Editor: Munirotun Naimah

;