Respon Isu Gender, PSGA UIN KHAS Jember Gelar Kajian
Humas - Maraknya kasus gender acapkali membuat sebagian masyarakat resah, merespon hal itu Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember gelar kegiatan di Lantai Dua GKT. Sabtu, 4 Juni 2022 lalu.
Kegiatan yang dikemas dengan Kajian Gender itu mangusung tema “Rethinking Gerakan Gender Mainstreaming Untuk Mewujudkan Perguruan Tinggi Responsive Gender”, sebagai jawaban atas isu-isu gender yang kerap kabur dalam menghormati hak orang lain terutama perempuan.
Rektor UIN KHAS Jember Prof. Dr. Babun Suharto mengatakan, kajian tersebut penting dilakukan, mengingat sejumlah kasus gender di Indonesia kekinian kerap menjadi trending topik.
Prof. Babun menambahkan, Perguruan Tinggi mustinya juga terbebas dari kasus gender. “yang paling penting adalah sebuak karya yang nyata, bukan kata tanpa karya,”. Ungkapnya.

Berdasarkan pantauan jurnalis Humas, kajian ini menghadirkan dua narasumber. Di antaranya KH. Imam Nakha’i Komisioner Komnas Perempuan dan Dr. Amanah Nurish Antropolog Islam dan Dosen Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia.
KH. Nakha’i dalam pemaparannya menerangkan, hakikat penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Perempuan dan laki-laki memilik hak yang sama, dan Budaya patriarki yang masih sering terjadi di Indonesia merupakan akibat dari krisisnya pengetahuan tentang hakikat penciptaan itu.
“Laki-laki dan Perempuan itu memiliki peran yang sama dalam tiga kategori, Al Insaniyyah, Al Akramiyyah, dan Al Afdholiyyah,”. Terangnya
Senada dengan Kiai Nakha’I, Dr. Amanah Nurish didepan 40 peserta kajian menegaskan, dalam konteks keadilan dan kemanusiaan, semua manusia baik laki-laki maupun perempuan berhak mendapatkan hak yang sama.
Berdasarkan temuannya, Amanah Nurish mengurai setidaknya empat akar problem gender ditengah masyarakat. Pertama dogma agama yang salah interpretasi, Kedua kebijakan di level lokal yang tidak memihak kepada kesetaraan gender, Ketiga minimnya kesadaran kolektif terkait gender, dan yang terakhir problem strukturan yang ada di masyarakat.
“Kita tetap berupaya dan mengedukasi masyarakat,” tutupnya. (humas/dnb)




