Menyelami Nilai Isra Miraj bersama KH. Madini Farouq dan Mahasantri Mahad Al-Jamiah IAIN Jember
Humas-Mahad Al-Jamiah memperingati Isra’ Mi’raj dan Khotmil Qur’an kamis (18/3) secara daring. Acara ini berlangsung setelah maghrib hingga pukul 21.00 WIB. Dihadiri oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. Hefni Zein, Direktur Mahad Al-Jamiah, KH. Madini Farouq, S.Sos, sebagai penceramah, murobbi, murobbiyah, musyrif, musyrifah beserta mahasantri Mahad Al-Jamiah IAIN Jember.
Dalam sambutannya, KH. Fathor Rahman selaku direktur Ma’had Al-Jamiah IAIN Jember menyampaikan beberapa hal di antaranya yaitu laporan kegiatan khotmil qur’an peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
“Kegiatan khotmil qur’an yang rutin diadakan setiap bulan pada kali ini dilaksanakan sekaligus peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Tujuan inti kegiatan ini yaitu memperingati peristiwa besar yang luar biasa yaitu isra mi’raj nabi besar Muhammad saw” ungkapnya.
Selain itu, Fathor Rahman juga mengapresiasi kepada para panitia dan pihak yang telah mendukung dan mensukseskan peringatan isra’ mi’raj ini dengan baik.
Dr. Hefni Zain selaku wakil reKtor III menyampaikan Mahad Al-Jamiah IAIN Jember merupakan salah satu unit yang bertanggung jawab pada pengembangan spiritual dan moralitas mahasiswa, keberadaannya menjadi jantung dari IAIN Jember karena ma’had mengawal tidak hanya pada intelektual mahasiswa saja akan tetapi spiritual dan moralitas.
Kegiatan-kegiatan PHBI yang bermuatan pendalaman materi di ma’had diarahkan kepada akhlak. Hal itu masih terkait dengan beban yang dipikul nabi yaitu akhlak, dan tujuan diutusnya nabi adalah menyempurnaklan akhlak. Dr. Hefni juga menjabarkan masing-masing huruf pada kata A-K-H-L-A-K dalam makna kekinian.
“Yang pertama A adalah Amanah. Apa yang dipikul ma’had untuk mengembangkan, memperkokoh, memperkuat spiritual dan moralitas mahasantri seperti keteladanan pengasuh, direktur, murobbi, murobbiyah, musyrif, musyrifah Ma’had Al-Jamiah IAIN Jember. Yang kedua K yaitu Kompetensi. Jadi yang dipilih menjadi pengurus ma’had yaitu orang yang memiliki kompetensi di bidangnya, orang-orang terpilih. Yang ketiga H yaitu Harmoni. Menebar harmoni baik berupa salam (afsus salam) kepada yang lain. Yang keempat L yaitu Loyality, loyalitas kepada agama, loyalitas kepada amanah yang dibebankan, loyalitas kepada pimpinan, harus tanggung jawab terhadap apa yang dibebankan. Yang kelima yaitu A yaitu Adaptability. Kemampuan adaptasi terhadap dinamika yang terus berubah, karena setiap zaman ada trendnya, setiap trend ada zamannya. Harus adaptasi dan update biar tidak ketinggalan zaman atau peradaban. Dan yang terakhir K yaitu kemampuan untuk bersinergi, kemampuan bekerja sama”.
Dalam acara peringatan hari besar islam ini, mengundang KH. Madini Farouq, S.Sos Pengasuh PP. Riyadlus Sholihin sebagai penceramah untuk memberikan siraman rohani dan pengetahuan tentang isra miraj yang nantinya diharapkan akan menjadi pemicu semangat bagi mahasantri.
KH. Madini Farouq, S.Sos dalam mauidhoh hasanahnya menyampaikan makna Isra Mi’ra dari berbagai sudut. Mulai latar belakang terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dikomparasikan dengan realita sekarang khususnya di masa pandemi ini.
“Memahami isra’ mi’raj yang pertama dari konteks latar belakang yaitu ‘Amul Huzni, tahun duka cita. Kita di dunia ini juga sering mengalami situasi seperti itu,kesedihan, duka cita, banyak orang mengalami kesedihan, kesulitan ekonomi, bisnis menurun di masa pandemi. Kanjeng nabi ketika dalam keadaan duka cita sebagai hiburannya nabi di mi’rajkan. Dan apa hiburan bagi kita ketika dirundung masalah? Jawabannya adalah sholat. Karena sholat merupakan mi’raj nya bagi orang mukmin yang sedang dilanda kesedihan, duka cita” ungkapnya.
Beliau menjelaskan tentang sabar baik sabar dalam menghadapi ujian, sabar menjalankan perintah Allah, dan sabar dalam menjauhi larangan. Di tengah musibah yang melanda dunia ini, harus dihadapi dengan sabar, menyerahkan semuanya kepada Allah.
“Memahami Isra’ Mi’raj ini tidak cukup hanya dengan pendekatan akal dan intelektualitas, tapi memahami Isra’ Mi’raj ini harus dengan pendekatan keimanan dan ketakwaan pada Allah SWT” tambahnya.
Di akhir mauidhohnya, beliau menyampaikan hikmah atau pelajaran yang bisa diambil dari peringatan Isra’ Mi’raj di antaranya bahwa “jika Allah sudah berkehendak, maka tidak ada yang bisa menghalangi, jika kita menginginkan keajaiban ataupun perubahan dalam hidup kita menuju kondisi yang lebih baik, hanya memohon kepada Allah dzat yang maha merubah segalanya dan janganlah jauh dari Allah” ungkapnya. (Humas/Naimah)




